Sunday, May 26, 2013

Tentang Pelajaran Bahasa Indonesia


Bagi orang yang sejak lahir hingga SMA bersekolah di Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti saya, maka Bahasa Indonesia, di samping Matematika dan Pendidikan Kewarganegaraan, merupakan pelajaran wajib yang diterima sejak kelas 1 Sekolah Dasar (SD) hingga kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, meski mempelajari bahasa yang praktis digunakan pula sebagai bahasa percakapan sehari-hari tersebut, secara pribadi saya tidak dapat dibilang ahli dan memahami secara mendalam tentang Bahasa Indonesia.
Hal tersebut baru saya sadari betul ketika saya dihadapkan pada materi-materi ujian Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNMPTN) tahun lalu. Meski demikian, tentu sebelumnya saya sudah merasa ada yang salah dengan pelajaran Bahasa Indonesia ini sejak saya bersekolah. Pasalnya, meski seperti yang saya kemukakan sebelumnya bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa percakapan sehari-hari dan dipelajari sejak SD. Namun, fakta menunjukkan bahwa nilai Ujian Nasional siswa SD, SMP, SMA selalu rendah pada pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal, Bahasa Indonesia mendapat porsi jam pelajaran yang cukup besar, kalau saya tidak salah waktu SMA saja sekitar empat atau lima jam pelajaran dalam seminggu. Selain itu, materi yang diajarkan di mata pelajaran Bahasa Indonesia cenderung sama, itu-itu saja dan mengalami perkembangan yang dapat dibilang kurang signifikan.
Hal tersebut tentunya menimbulkan tanda tanya besar dalam hidup saya. Kok bisa ya? Yang salah dimana? Hal yang membuat pelajaran ini lebih menarik adalah bahwa meski terbilang rumit, namun, les Bahasa Indonesia tetap kurang diminati sebagaimana pelajaran eksak lainnya. Pasalnya, les Bahasa Indonesia ini dinilai kurang membantu dengan melihat realita bahwa jawaban dari sebuah pertanyaan saja terkadang berbeda-beda antar satu guru dengan guru yang lain.  Namun, kemisteriusan pelajaran Bahasa Indonesia tersebut tidak lebih menghenyakkan dari kedahsyatannya dalam mengejutkan orang-orang yang akan mengikuti tes SNMPTN.
Secara teknis, memang saya tidak mengikuti tes SNMPTN tersebut. Namun, dalam persiapan tes SNMPTN yang saya ikuti saya cukup mendapat ide tentang bagaimana sistem pengajaran Bahasa Indonesia di negara Indonesia sendiri. Bila harus diungkapkan dalam satu kata, maka saya akan memilih ‘absurd’. Bagaimana tidak? Selama dua belas tahun mempelajari bahasa nasional saya ini, saya dicekoki materi sama yang berulang-ulang seperti majas, kalimat baku dan efektif, cara menyusun surat, menjadi notulen,  inti kalimat, kesimpulan, fakta opini, dan hal-hal monoton lainnya. Tiba-tiba di soal Bahasa Indonesia SNMPTN, muncul pertanyaan-pertanyaan yang asing dan baru bagi saya. Pertanyaan yang terlihat simpel, namun cukup ampuh untuk menggugurkan peserta-peserta ujian SNMPTN. Dari penggunaan kata pada, dalam, kata dan kalimat baku, membedakan kata depan dan awalan sebuah kata dll. Awalnya saya berpikir positif bahwa itu materi advance dari materi di kelas yang salah guru saya aja nggak diajari di kelas. Namun, bila memikirkan bahwa tidak pernah munculnya soal-soal seperti itu di ujian-ujian sekolah maupun buku-buku pelajaran menandakan bahwa memang soal tersebut tidak dimaksudkan untuk dipelajari siswa di bangku sekolah.
Untung saja saya pada saat itu sempat mengikuti les Bahasa Indonesia untuk persiapan SNMPTN, sehingga saya sedikit banyak mengerti cara memahami dan teknik menjawab soal-soal SNMPTN (yang pada akhirnya saya lupakan juga sih). Di satu sisi saya merasa jengkel, kenapa materi-materi tersebut tidak dimasukkan dalam kurikulum pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah agar kita tidak terlalu buta dan kaget dalam menghadapinya di SNMPTN? Bukankah atas nama inovasi, hal tersebut terdengar lebih baik daripada menjalankan sistem pengajaran ‘materi-berkembang-sedikit-sedikit’ seperti yang diterapkan selama ini. Namun, di sisi lain diri saya mencoba mengkompromi ide tersebut dengan mencoba berpikir bahwa mungkin saja mengingat pengajaran materi yang sama dan mengalami perkembangan sedikit-sedikit masih tidak dapat menstimulasi naiknya nilai Bahasa Indonesia para siswa. Maka, materi-materi sulit Bahasa Indonesia hanya diluncurkan secara eksklusif bagi ujian masuk Perguruan Tinggi Nasional saja.
Pada akhirnya, eksekusi awal sayalah yang menang dalam debat antara diri saya sendiri itu. Menurut saya, pengajaran beberapa materi-materi Bahasa Indonesia SNMPTN seharusnya memang telah dipersiapkan sejak sekolah, minimal memasukkannya sebagai kurikulum pelajaran di SMA. Karena pada dasarnya, SMA merupakan titik puncak kejenuhan siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, dimana nyaris semua materi yang diterima telah diajarkan di jenjang-jenjang pendidikan sebelumnya. Sehingga, pemberian materi baru seperti persiapan Bahasa Indonesia untuk SNMPTN akan sangat menyegarkan dan tentunya berguna. Hal yang saya soroti selanjutnya adalah mengenai rendahnya rata-rata nilai Bahasa Indonesia para siswa. Alasan tersebut sangat tidak relevan untuk digunakan sebagai alasan mengajarkan materi sama berulang-ulang demi pemahaman yang lebih mendalam. Karena yang saya dapat dari les Bahasa Indonesia yang saya ikuti, dalam memahami dan menyeleseikan soal-soal Bahasa Indonesia pun terdapat rumus-rumus yang dapat membantu, tak begitu berbeda dengan pelajaran Matematika, Fisika, atau Kimia. Pemberian pengertian dan pemahaman akan rumus-rumus tersebutlah yang kemudian seringnya luput saya temui pada guru-guru Bahasa Indonesia di sekolah.
Perombakan pada sistem dalam hal kurikulum oleh Menteri Pendidikan dan cara pengajaran Bahasa Indonesia oleh para guru kemudian jauh lebih penting daripada perombakan jadwal Ujian Nasional demi meningkatkan nilai mata pelajaran tersebut. Mengingat banyaknya kuota jam pelajaran yang disediakan di sekolah, penambahan materi Bahasa Indonesia sangat dibutuhkan untuk menghindari kejenuhan yang berujung pada keacuhan pada bahasa nasional kita itu. Tentu saja bukan berarti hal tersebut memaksa kita semua menjadi ahli bahasa atau pujangga. Hanya saja, bukankah akan ironis bila sebagai Warga Negara Indonesia, kita tidak dapat memahami Bahasa Indonesia dengan baik dan benar hanya karena kesalahan pada sistem pengajarannya yang tidak mendukung serta membosankan?

2 comments:

K.R. Primawestri said...

keren nis, aku setuju ;)) terus bagus juga kali nis belajar bahasa indo di sekolah pake metode yang asik, mungkin sambil nonton film indonesia dst xDDDb

Bahasa-Corner.com said...

Cukup menarik ulasan anda. Semoga bahasa Indonesia bisa dikenal dan di gunakan di dunia. Oleh karena itu kamipun membuat situs tentang pelajaran bahasa Indonesia untuk orang lain di luar Indonesia agar bisa berbicara dalam bahasa Indonesia.

Salam